Saturday, November 18, 2017

Kepadanya

Aku bersukacita melihatmu bertumbuh.

Bagiku pertumbuhanmu mengenal panggilan-Nya serta Dia yang memanggilmu adalah hal yang paling membahagiakan.

Aku tidak kuatir, sebab aku tahu oleh apa hidupmu berdasar. Aku tidak perlu cemas, sebab kamu mendasarkan hidupmu pada landasan yang kokoh.

Ketika kamu kecewa, aku tahu siapa yang kamu dengar untuk menghiburmu.

Ketika kamu menyala-nyala, aku tahu siapa yang membuatnya.

Ketika kamu sedih dan lelah, aku tahu kepada siapa kamu akan datang dan akhirnya pergi dengan beroleh kekuatan yang baru.

Sudah lebih dari cukup. Aku sungguh bersukacita.

Aku belum mengerti kenapa namamu begitu manis di telingaku. Aku pun senang menyebutkannya di dalam doaku. Entah sejak kapan mulainya, aku pun tidak tahu pastinya. Itu mengalir saja.

Waktu ini cepat. Cepat sekali. Dua tahun sudah berlalu.

Aku masih belum mengerti apa maksud Dia yang menitipkan namamu dalam doaku.

Aku tidak meminta yang lain, hanya pertumbuhanmu di dalam Dia.

Pernah harapan yang lain tiba-tiba muncul, membuatku menjadi egois. Aku menginginimu menjadi mitra hidupku.

Sebuah keinginan yang tidak masuk akal, sebab kita jauh sekali. Berkomunikasi pun langka.

Aku pun mengoreksi hatiku. Aku ingin berhenti mendoakanmu.

Aku takut, semakin aku mendoakan pertumbuhanmu, semakin aku peduli … dan kasihku bertumbuh lebih lagi.

Tetapi aku tetap saja kembali ke tempat yang sama.

Kembali mendoakan hidupmu.

Kerinduan mendoakanmu ini, sungguh datangnya dari Dia atau malah berkembang menjadi ambisi pribadi?

Sekarang sepertinya waktu yang tepat untuk mencukupkan diri.

Aku percaya segala kebutuhanmu Tuhan sediakan bagimu.

Aku berdoa Tuhan melimpahi gairah-Nya untuk mengasihi orang-orang yang kepadanya kamu diutus.

Aku berdoa Tuhan yang adalah Kekasih Hatimu, menghibur hatimu tiada henti sebagaimana pun lelah dan padatnya pelayananmu.

Aku berdoa, hatimu semakin dewasa di dalam menyembah Dia dan di dalam memperlakukan hidup.

Kiranya karakter pemimpin yang hancur hati semakin melekat padamu.

Dua tahun ini tidak sia-sia. Dia membuktikan pemeliharaan-Nya terhadapmu.

Itu cukup bagiku.

Wednesday, March 15, 2017

Cinta tumbuh bukan karena dipaksakan

Cinta itu tumbuh bukan karena dipaksakan. Cinta tumbuh karena anugerah. Entah dari mana asalnya ia datang, ia tumbuh begitu saja.

Indonesia Timur. Dua kata itu mendarat dengan manis di telinga bahkan merayap turun sampai ke hati. Tidak terasa, rasa rindu pada bagian pinggir Indonesia ini timbul dan berubah jadi harapan. Persisnya sejak kapan rasa itu bertumbuh, saya tidak tahu. Ditanya mengapa  pun, saya tidak mampu menjelaskannya dengan baik. Nama itu – jatuh di hati lalu menggerakkan si hati untuk menyebut namanya tiap-tiap malam, setidaknya melalui bisikan kepada Sang Pelukis Semesta.

Tidak tahu apa yang bisa diperbuat di sana. Tidak tahu bagaimana dan kapan harus memulai. Tidak tahu bagaimana caranya ke sana. Tidak tahu dengan siapa harus bercerita dan mengatur strategi untuk mengambil langkah.

Saya ingin bergerak cepat, berlari. Berlari sambil lompat jauh bahkan kalau bisa. Tetapi, samar-samar. Mirip seperti mengendarai mobil di tengah hujan deras, basahnya kaca mobil oleh hujaman rintik hujan memaksa untuk mengurangi kecepatan mobil. Pandangan dan pemahaman saya yang terbatas memperlambat laju kaki saya.

Ternyata masih banyak tempat perhentian yang harus dikunjungi  untuk melatih otot-otot kaki supaya lebih kuat  -- sebelum benar-benar berdiri menjejak di atas daratan itu. Ternyata banyak suara yang perlu didengar supaya kadar kebodohan yang masih tinggi setidaknya digodok untuk menjadi secangkir hikmat.

Saya hampir melupakan tempat ini dua tahun yang lalu. Saya pikir ini cinta yang bertepuk sebelah tangan. Saya berkali-kali mencoba menghampiri kompleks timur dengan cara yang saya pikir adalah cara paling mujarab...melamar jadi peneliti sosial lapangan di Papua di IGO, mencoba bekerja di Papua Center di kampus, hingga melamar jadi enumerator organisasi pemerintah yang sedang kumpul data di Papua…

tetapi gayung tidak belum bersambut.

Saya sudah berjalan melenggang, berbalik ke arah yang lain. Namun, saya masih berharap.

Ketika saya sudah menyerah dan memberikan kendali perahu kepada Sang Pemilik Lautan Lepas (lebih tepatnya di titik, “Tuhan, di bawah kedaulatanMu, terserah Kau mau bikin apa dengan hidupku”), tanpa jelas bagaimana prosesnya, nama Halmahera Utara sampai di gendang telinga saya. Ketika saya sudah begitu nyaman dengan keberadaan saya di Jakarta, saya malah ‘diusir’ ke tempat antah berantah itu.

Saya tertawa kecil. Rupanya Halmahera Utara itu Maluku Utara, dan Maluku Utara itu bagian dari …… Indonesia Timur.

Saya pikir kadang-kadang Tuhan ini caranya lucu juga. Jujur saja, saya bingung harus senang atau sedih saat tahu kabar penempatan itu. Sekali lagi horizon saya diperluas bahwa Indonesia Timur tidak hanya berbicara tentang Papua.

Bertemunya semut dengan satu butir gula di bawah meja makan itu sama sekali bukan kebetulan, apalagi pertemuan-pertemuan manusia di persimpangan jalan. Sang Pengatur Semesta mengamat-amati dan menjalin benang-benang tenun-Nya dengan terencana. Sampainya saya di tanah Halmahera ini pun bukan rancangan asal-asalan dari Sang Pemilik jalan hidup. Entah untuk apa, saya pun masih menjejakinya pelan-pelan. Setelah ini saya ke mana, satu orang manusia pun tidak ada yang tahu. Proses penjejakan ini seru, menantang dan indah pada saat yang sama.

Ini hari ke 557 saya hidup di Indonesia Timur, benih-benih cinta pada tanah ini masih terus ditabur. Jatuh cinta itu satu hal, namun menumbuhkan dan memeliharanya itu hal lain. Falling in love memang tahapan penting, tapi growing in love jauh lebih penting. Jatuh cinta memberikan cukup energi untuk memulai, namun mau bertumbuh di dalamnya memberikan tenaga ekstra untuk menjalani sampai akhir.

Butuh perjuangan memang, Bung. Hal yang pahit-pahitnya NGGAK sedikit, kekecewaan BANYAK, bikin salah NGGAK jarang, capek ‘menanam’ SERING. Tapi jika Bung bertahan, cinta makin bertumbuh kuat dan dalam. Jika angkat tangan, akarnya melemah dan akhirnya cinta pun tumbang (cailaaah…)

Terbuktilah yang orang bilang love is a verb, karena nggak pernah cukup kalau cuma sebatas diucap jadi kata romantis. Jangan lupa, habis tanam ya disiram dan dikasih pupuk, nanti bila Yang Mulia berkenan, maka Yang Mulia berikan pertumbuhan. Kalau sudah bertumbuh, dianugerahkanlah kiranya kepekaan untuk merasakan dan menikmati pertumbuhan itu.

Yaudah segitu dulu cerita malam ini, kopi saya sudah habis (ala-ala Denny Siregar) hehehe. Sebenarnya momen nulis ini tak terelakkan adalah kebutuhan untuk mengingatkan jiwa penulis yang pelupa ini bahwa Sang Penuntun Jalan sudah membawanya sejauh ini bukan untuk menyesatkan apalagi meninggalkannya. Ada proyek yang sedang dipercayakan untuk dikerjakan, sebut saja namanya: proyek ketaatan. Bergelutlah terus, sebab sesungguhnya musuhmu yang terbesar bukanlah orang lain, tetapi dirimu sendiri. Jika dirimu sendiri tidak berhasil kau kalahkan, bagaimana bisa kau kalahkan dunia, kawan? (nanya ke diri sendiri).


Selamat jatuh cinta dan grooooow in it!


Started from September 7, 2015 and will continue counting the upcoming minutes.

 I treasure each day since each day is Kairos.

Saturday, February 18, 2017

Tunggu Sebentar

Alarm pagi berbunyi pukul 06.00. Kita bangun mematikan alarm, dalam hati, “Ah, tunggu sebentar lagi.” Alarm kembali berbunyi 10 menit kemudian. Kita kembali bangun dan mematikannya, “5 menit lagi, 5 menit lagi.” Alhasil kita bangun pukul 07.00 dan melakukan segala persiapan menuju kantor dengan terburu-buru. Syukur-syukur ingat sembahyang sebelum memulai hari. Sekalipun sembahyang juga, bagaimana kualitas sembahyangnya? Hanya berbentuk doa yang bergumam tidak jelas, ritual belaka?

“Yang penting sudah berdoa.” Doa diperlakukan seperti baca mantra.

Kelas masuk pukul 09.00 pagi, 15 menit dari tempat tinggal kita baru jalan ke kampus. Pikir kita, aahhh dosennya pun selalu datang terlambat.

Janjian dengan teman pukul 13.00, kita pun datang pukul 13.30, menganggap keterlambatan setengah jam itu wajar-wajar saja dan bisa diterima dengan mudah oleh orang lain, wong orang yang janjian sama kita pun sering datang terlambat. Kita akhirnya menurunkan punctuality standard kita.

Di acara konferensi, acara keakraban di kantor, meeting, dan lain sebagainya pun demikian, waktu istirahat hanya diberikan satu jam dari pukul 12.00 hingga 13.00. Tapi peserta baru lengkap pukul 13.30. Entah apa saja yang dikerjakan hingga waktu satu jam masih saja kurang.

Laporan bulanan di kantor diberikan batas waktu sampai tanggal 29. Kita mengerjakannya beberapa jam sebelum pukul 23.59 tepat pada tanggal tersebut berakhir. Kalaupun belum selesai sedikit dan dikirim agak lewat 15 menit dari deadline, kita pasrah, “Ya sudahlah, toh besok masih tanggal 30. Bulan belum berubah.”

Datang ke sebuah acara ibadah pun demikian. Berapa banyak gereja yang terpampang di papan depan gedungnya waktu ibadah pukul 09.00 tetapi nyatanya baru mulai pukul 09.20? Karena? Majelis atau pendetanya belum datang, sekalipun sudah datang tapi datangnya mepet waktu, atau memang datangnya sudah telat lewat dari pukul 09.00. Jemaat dibiarkan menunggu seperti ikan asin.

Ke kantor tepat waktu pun terpaksa, kalau tidak, hmm gawat….gaji atau jatah cuti dipotong. Bukankah kita melakukannya terpaksa?

Bila dipikir-pikir ada berapa juta jiwa di Indonesia ini adalah pelaku korupsi waktu? Kita-kita ini koruptor. Sama saja dengan koruptor uang yang di pikirannya ‘saya harus mengeruk uang untuk kepentingan saya sebanyak-banyaknya.’ Demikian juga para koruptor-koruptor waktu ini, ‘saya harus mengeruk waktu untuk kepentingan saya sebanyak-banyaknya.’

Tanpa disadari, di alam bawah sadar kita, kita menempatkan kepentingan diri sendiri lebih tinggi daripada kepentingan orang lain.

Kedisiplinan menjadi barang yang langka di tengah kebiasaan tidak disiplin waktu. Menjadi orang on time di Indonesia adalah serba salah. Bila datang on time, sudah hampir pasti kita akan menjadi penunggu-penunggu para pelaku terlambat. Kita kehilangan waktu. Namun mereka tidak pernah tahu, tidak menghargai dan tidak menyadari bagaimana pentingnya waktu yang sudah kita susun dengan rapi berdasarkan prioritas pribadi yang kita pilih.

Sekalinya ada orang yang disiplin dengan waktu, kita melihatnya sebagai anomali. “Ahh, orang ini terlalu kaku. Terlalu perfeksionis” Kita kekurangan teladan orang-orang disiplin waktu sehingga kita terbutakan. Kita terjerumus dalam kubangan kenyamanan…..rasa malas. Bagaimana seseorang memperlakukan waktunya mencerminkan orang seperti apa dirinya.

Saya dididik disiplin sejak kecil oleh Ibu saya. Sejak SD sampai SMA saya terbiasa menjadi orang yang tepat waktu, bahkan seringkali in time. Dalam kamus Ibu saya tentang disiplin waktu, lebih baik kita yang menunggu orang lain daripada kita ditunggu orang lain. Dalam aplikasinya, rekor saya menunjukkan sepanjang saya sekolah saya nyaris tidak pernah datang terlambat ke sekolah begitupun ke gereja. Saya selalu menyelesaikan pekerjaan rumah minimal malam sebelum hari deadline. Saya ingat pernah terlambat datang ke sekolah waktu SMA hanya dua kali, sekali saat ada kebakaran di jalan sehingga macet total dan kedua karena saya sakit pagi hari sehingga berangkat lebih siang dari biasanya.

Namun saya menyadari perubahan mulai terjadi sedikit demi sedikit dan mulai terkumpul menjadi bukit. Mulai masuk kuliah saya banyak kompromi dengan waktu. Saya bahkan lupa berapa banyak saya terlambat datang ke kelas. Di awal perkuliahan saya masih jadi orang yang in time, kuliah pukul 09.00 namun pukul 08.30 paling lambat saya sudah duduk di kelas ketika kelas masih kosong melompong. Dari semua kelas, rata-rata dosen memulai kegiatan di kelas pukul 09.15.

Karena terlalu sering saya menunggu, saya jadi kompromi untuk berangkat lebih siang supaya tidak menunggu tidak jelas. Tampaknya saya menjadi nyaman dengan kondisi itu. Semua orang melakukan hal yang sama, mengapa saya harus menyusahkan diri untuk jadi orang berbeda. Pikir saya kala itu, toh, berkali-kali saya secara tidak langsung memberi teladan ketepatan waktu namun orang lain tidak berubah juga. Saya pun jadi kurang berjuang mengalahkan kenyamanan diri sendiri untuk kembali hidup disiplin.

Hal-hal yang saya katakan di prolog tulisan ini, saya tidak menyangkali bahwa saya juga salah satu pelakunya.

Setelah menjadi alumni, saya kembali menerapkan hidup disiplin sekalipun jatuh bangun. Saat saya masih kerja freelance, saya menjadikan punctuality sebagai salah satu nilai profesionalisme pribadi saya.

Akan tetapi, setahun terakhir ketika bekerja di Halmahera Utara, nampaknya nilai itu diuji lagi. Saya berhadapan dengan banyak mitra kerja lokal yang kesulitan berkomitmen dengan kesepakatan waktu. Pergi ke kantor dinas, pertemuan-pertemuan dan sebagainya, mereka tidak pernah tepat pada waktu yang disepakati.

Kemarin adalah momen yang sangat berharga, akhirnya saya jatuh. Saya sudah mulai berasumsi bahwa semua mitra di sini setipe. Saya membuat janji pertemuan dengan seorang calon mitra. Namun murni kesalahan saya pribadi, saya tidak memperhitungkan waktu dengan benar untuk jadwal kegiatan saya dan tim di hari itu. Akibatnya, saya tidak mampu memenuhi janji pertemuan di siang itu. Saya sampaikan akan datang terlambat, lalu saya meminta maaf. Saya menganggap hal demikian sudah wajar terjadi di kabupaten ini, dan asumsi saya, calon mitra ini akan menerimanya.

Tidak diduga, respons beliau berkebalikan 180 derajat. Saya dimaki habis-habisan. Kata-kata teguran dan penghakiman yang disampaikan membuat dada saya sesak, leher saya tercekat dan mata berkaca-kaca. Saya terpukul. Saya tidak mau memberikan excuse terhadap diri saya karena memang itu adalah kesalahan saya dan saya mengakuinya kepada beliau dan kepada Tuhan.

Terlepas dari itu semua, saya menyampaikan rasa terima kasih pada beliau. Saya percaya teguran yang nyata jauh lebih baik daripada kasih yang pura-pura. Saya penuh syukur karena beliau dipakai Tuhan melalui kejadian yang diizinkan-Nya terjadi untuk memotong ranting busuk yang masih ada dalam diri saya. Momentum kemarin menyakitkan, jujur saja. Namun di saat yang sama begitu mencelikkan, menyegarkan dan menguatkan.

Saya kembali mendapatkan gambaran yang utuh bahwa waktu adalah Kairos, sesuatu yang sebaiknya tidak disia-siakan karena hari ini tidak akan pernah terulang sebagai hari yang sama besok dan seterusnya. Jikapun ditanya apa talenta terbesar yang dipercayakan Sang Pencipta kepadamu? Hal itu adalah waktu. Waktu adalah pemberian terbesar dan paling berharga bagi orang lain dan bagi Tuhan.

Percuma segala pengetahuan agama dan keimanan kita bila tidak pernah diaplikasikan pada hal yang kelihatannya remeh temeh seperti pengelolaan waktu. Sepertinya perlu ditambahkan, bukan hanya kebersihan yang merupakan sebagian dari iman, tetapi ketepatan waktu pun demikian. Bagaimana bisa bertanggung jawab kepada Sang Khalik yang tidak terlihat bila di depan manusia yang terlihat saja kita tidak bertanggung jawab?

Semoga kegagalan saya dapat menjadi pelajaran bukan hanya bagi diri saya sendiri, namun juga para pembaca tulisan ini. Christlikeness is not only a goal but also a process. Jangan patah arang karena kegagalan sekali dua kali.

Soli Deo gratia.


Saturday, December 17, 2016

Belum Selesai

Tulisan lanjutan dari sebuah pergumulan yang tidak akan pernah berhenti seumur hidup – panggilan hidup (sebuah panggilan untuk kita hidup). Memutuskan untuk membuka dan menuliskannya untuk berbagi dan menguatkan. Menjadikan tulisan ini juga sebagai monumen untuk mengingatkan diri sendiri akan Sang Pemberi Panggilan.

Akan jadi sebuah tulisan defragmentasi yang panjang. Siap-siap…

***




Maaaagiiiic!

Ini Bulan Desember di tahun kedua saya di Tanah Halmahera. Bekerja di bidang ini, pembangunan a.k.a pengembangan manusia adalah hal yang membahagiakan. Saya seperti menemukan nyawa di bidang ini. Secara spesifik, saya ‘digiring’ untuk masuk ke pengembangan ekonomi masyarakat. Jujur saja, latar belakang pendidikan saya memang tidak serelevan itu untuk dipercayakan tanggung jawab sebesar ini di organisasi ini. Itulah mengapa saya sebut organisasi ini baik dan murah hati sekali, sekaligus gambling juga karena mempekerjakan saya di bidang ini. Berbekalkan sedikit pengalaman waktu kuliah dan minat di bidang ekonomi, saya ‘dijerumuskan’ Tuhan ke sini. Mengapa saya menyebut Tuhan? Karena entah kenapa saya percaya bahwa saya ada di dalam pekerjaan tangan-Nya atas Bumi Hibualamo ini.

Bermodalkan kepercayaan dan investasi dari organisasi serta keyakinan bahwa Tuhan menyertai, saya mengangkat tugas dan tanggung jawab pekerjaan ini dengan sukacita. Mengobservasi 33 desa layanan yang tersebar dari utara hingga selatan – melihat dan mengamati jejaring potensi antardesa dan pemerintah daerah – menjembatani gap antara konsep dan fakta di lapangan; hingga membuat kembali konsep intervensi dan strategi pendampingan masyarakat melalui cara yang kontekstual; bertemu langsung, mengenal, mendengar, melatih, memfasilitasi dan memotivasi masyarakat – semua itu sangat menyenangkan. Membahagiakan, menyenangkan…maafkan bila kata-kata ini sering muncul. Itu semua karena sungguh demikian adanya.

Secara ekstrim saya bisa bilang: sekalipun tidak dibayar, saya akan tetap suka melakukan pekerjaan ini. Baru mendeskripsikan sedikit tentang pekerjaan saya di tulisan ini sambil membayangkannya saja saya sudah sambil tersenyum =)

Pekerjaan ini seperti magic buat saya. Semenyenangkan apapun pekerjaan, saya tidak mengelak bahwa ada pula periode kejenuhan, kebingungan dan kelelahan akibat menghadapi banyak manusia yang (pastinya) sulit berubah dalam jangka waktu yang singkat. Teori perubahan sudah dibuat sebelum kegiatan intervensi diimplementasikan. Namun demikian, tetap saja yang dihadapi ini bukan benda-benda mati yang bisa diselesaikan dengan rumus pasti. Yang dihadapi ini adalah manusia-manusia dinamis yang hidup di dalam zaman yang juga dinamis dan musim yang fluktuatif. Akan tetapi, bertemu dengan mereka secara langsung di kala-kala periode itu datang adalah berkat – berkat yang mengubahkan keluh dan pesimisme menjadi harapan – berkat yang mengubahkan lelah menjadi kuat. Maaagic! Semakin saya dipaparkan dengan kondisi kemustahilan, saya malah semakin melihat harapan yang semakin jelas.

Panggilan hati kita pasti berbeda, sekalipun mirip, mungkin tidak spesifik sama. Perasaan magic yang saya sebutkan mungkin dirasakan pula oleh seorang komposer yang selalu jatuh cinta lagi setiap kali melihat tangga nada dan mengayunkan tongkat pemandunya di hadapan pasukan orkestranya. Atau seperti seorang penyapu jalanan yang selalu merasa energi terbaiknya selalu terbarukan setiap kali ia memegang sapu dan membuat jalan-jalan bersih. Atau bahkan seperti seorang penjahit yang selalu merasa dirinya paling keren ketika ia sedang merangkaikan benang dan kain dengan jarum.

Satu tahun tiga bulan sebelas hari

Satu tahun tiga bulan sebelas hari, saya bersyukur. Tidak terhitung lagi betapa banyaknya kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri. Saya belajar banyak untuk memimpin dan menjadi orang yang dipimpin. Saya menyaksikan keteladanan kepemimpinan di organisasi ini. Baik dari sisi negatif kepemimpinan maupun positifnya, keduanya berbekas menjadi refleksi untuk memperbaiki dan menyiapkan diri untuk masuk babak baru dalam hidup.

Saya ditantang untuk merangkak keluar dari zona nyaman latar belakang ilmu pengetahuan dan gelar kesarjanaan. Saya ditundukkan untuk mendengar lebih banyak dan menggali lebih dalam; kelapa, kewirausahaan, pemasaran, kelompok tani, tanaman bawang, jagung dan sebagainya. Hal baru yang mau tidak mau harus dipelajari. Awalnya sempat menutup hati, “Apaan sih ini?” Tapi hati ini akhirnya terbuka sedikit demi sedikit. Benar, masyarakat tempat saya melayani hidup dari itu semua. Bagaimana saya bisa melayani bila saya tidak mengenal mereka?

Kendala bahasa juga jadi pekerjaan rumah tersendiri. Di awal-awal kedatangan, saya sangat kurang percaya diri untuk memimpin pertemuan dan diskusi dengan masyarakat. Saya takut bahasa saya tidak dipahami. Saya ditempa untuk sekali lagi “melepas sepatu” dan “duduk beralaskan tanah’, mempelajari logat dan bahasa lokal sedikit demi sedikit. Sekarang, logat sudah lumayan bisa menyerupai. Namun, bahasa masih sulit. Pertama, mungkin pengaruh usia dan kedua, mungkin karena memang belum total menyerahkan diri untuk belajar bahasa-bahasa lokal di sini. FYI, di 3 wilayah pelayanan, ketiganya memiliki bahasa lokal masing-masing :”) Tantangan ini manis sekali.

Skenario berubah

Perjalanan selama setahun ini tidak semudah itu  :”) Yang saya tuliskan di postingan terakhir tahun 2015, belum selesai. Sekalipun arah yang semakin jelas mengenai panggilan hidup sudah dijejaki, tapi ini semua belum selesai. Segala konsep yang pernah saya tahu seumur hidup saya mengenai

‘God is too wise to be mistaken, too good to be unkind’,

‘Having God is more than enough’,

‘Jehovah Jireh…’

‘God’s in control’ dan seterusnya…mengalami challenge setiap hari. Kalimat saya pada post ini:

“…sekalipun tidak dibayar, saya akan tetap suka melakukan pekerjaan ini…”

tidak semulus itu diterapkan.

Sepanjang tahun ini penuh dengan masa ‘konfrontasi’ dengan Allah, protes dengan Allah yang cara kerja-Nya kadang-kadang sungguh tidak dimengerti, marah, kecewa, sesak, jatuh hingga titik terendah, masa naik dan turun hingga akhirnya saya menyerah dan membiarkan tangan Allah yang menggenggam tangan saya dengan erat.

Sang Pemberi Panggilan itu seakan-akan membiarkan tempat Ayah saya bekerja mengalami kebangkrutan sehingga Ayah tidak bekerja lagi tepat setelah tiga bulan saya mulai bekerja di tempat nun jauh ini. Sejak awal, saya tidak pernah menjadikan gaji sebagai tujuan utama ketika memutuskan untuk berkarya di sini. Seperti yang sudah saya paparkan di atas, saya pergi karena jenis pekerjaan ini membangkitkan bagian terdalam hati saya. Berapapun besar gajinya, saya tidak terlalu peduli. Ayah saya masih bekerja dan finansial keluarga kami aman-aman saja. Saya masih bisa menabung dengan bahagia. Saya juga sudah membuat rencana tabungan dan peruntukannya dengan rapi. 

Itu awalnya.

Namun skenario tiba-tiba berubah.

Sebuah batu besar seperti ditaruhkan ke atas bahu saya saat pertama kali mendengar kabar dari keluarga saya. Di hari pertama kabar itu datang, saya masih menanggapinya biasa-biasa saja. “Oh, tidak apa-apa. Aku masih bisa menopang keluargaku.” Saya masih bisa menenangkan ibu saya yang kuatir. Saya masih meyakini Tuhan pasti memelihara kami.

Bulan demi bulan berjalan. Nominal gaji yang kata orang pas-pasan itu, ternyata baru terasa sungguh pas-pasan hahaha. Beban semakin terasa ketika tabungan pribadi sedikit demi sedikit terkuras untuk tambal sulam kebutuhan keluarga dan biaya hidup di sini (yang tidak murah). Mulailah jiwa saya berteriak,

“You, God…how could you let this all happen when I’m currently heading to Your calling?”

“I bravely decided to serve here because of Your promise. You’ll take care of my family,won’t You? Is this something that You name as taking care?”

“God, I want to give more, more and more, but  I’m limited. How could I bless more people with this amount of money?”

“What…actually…the things You wanna teach me about? Explain it, God…”

Saya marah dan menuding Allah. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, pergumulan itu benar terjadi. Doa saya penuh nada getir dan seringkali tanpa nada, karena saya hanya diam untuk mendengar lebih banyak. Tanpa disadari pergumulan itu pernah begitu mengusik saya untuk berhenti mengerjakan panggilan ini.

Saya lupa.

Saya lupa betapa Dia Allah yang tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Saya lupa bahwa Dia bekerja di dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya.

Saya lupa bahwa rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan.

Saya lupa bahwa Dia berdaulat atas segala ciptaan-Nya,

… dan saya adalah ciptaan-Nya itu. Maka di bawah kedaulatan-Nya itu, Dia berhak melakukan apapun yang Dia perkenan. Dan Dia….tetap adalah Allah,
Gembala yang Baik.

Fase kehidupan yang sedang saya jalani ini adalah konsekuensi dari pilihan yang saya putuskan tahun lalu, yakni bekerja di sini bukan untuk materi. Ini semua belum selesai. 

Saya hanya meminta Tuhan memberikan kekuatan untuk bertahan dan menjalani kehidupan dengan hikmat di tengah keterbatasan yang ada – tanpa menghujat Dia dengan meragukan pemeliharaan-Nya.  Sesungguhnya, Dia tidak pernah membiarkan kami jatuh hingga tergeletak.

Saya bahagia hidup di dalam kesederhanaan. Semua ini cukup, hai jiwaku.

Saya belajar tentang ketaatan dan kesetiaan pada titik makna yang lebih dalam selama setahun ini. Sejak saya mengenal bekerja, mulai dari freelance hingga punya pekerjaan tetap, saya berdoa supaya uang yang saya miliki bisa menjadi berkat untuk orang lain. Saya cenderung jarang memikirkan diri saya sendiri karena saya tipikal perempuan yang tidak akan membeli sesuatu bila itu tidak benar-benar saya butuhkan. Saya hanya menyimpan uang secukupnya bila sewaktu-waktu tiba saatnya ada hal yang dibutuhkan. Kondisi terbaru di mana saya tidak lagi memiliki ‘uang lebih’ untuk menopang orang lain dan pelayanan lainnya selain perpuluhan, kebutuhan keluarga inti dan kebutuhan sehari-hari saya di sini menjadi sebuah siksaan batin. Sedih sekali ingin memberi lebih namun apa daya tangan tak sampai.

Namun dari itu semua, saya diperlihatkan beberapa konsep berpikir saya yang ternyata 
salah.

Tentang ketaatan, kesetiaan dan persembahan

Tuhan tidak perlu menjawab pertanyaan ‘mengapa’ yang saya ajukan bertubi-tubi. Melalui episode ini, saya diajar untuk tetap memerankan skenario ini dengan taat dan memercayakan akhir ceritanya pada Sang Sutradara. Entah apapun yang menanti di ujung nanti, hati saya kembali memegang teguh ‘….untuk mendatangkan kebaikan dan nama Allah semakin dipermuliakan.” Saya berhenti bertanya kenapa. Saya menggantinya dengan mengatakan, ‘kenapa tidak?’ :”D

Pernah dalam doa, saya menyebutkan kerinduan untuk meningkatkan kualitas dalam mempersembahkan dan memberi, tidak hanya kuantitas. Sepertinya Tuhan sedang mengabulkan hal itu. Saya didisiplinkan untuk tetap setia mempersembahkan perpuluhan dalam keadaan apapun. Lebih jauh lagi diajar melalui ‘masa paceklik’ ini bahwa ketaatan kepada Allah lebih baik daripada korban persembahan. Ketaatan itu adalah persembahan yang menyukakan hati Allah. Bagaimana tidak? Manusia yang diciptakan dengan kehendak bebas dan punya kesempatan untuk hidup semaunya, memilih untuk hidup tunduk di bawah kendali Penciptanya. Dalam ketaatan, manusia mengalahkan dirinya sendiri yang merupakan musuh terbesarnya, manusia mengalahkan kesombongan dan keinginannya untuk berperan seolah-olah dirinya sendiri adalah Tuhan.

Dalam hal peningkatan kuantitas, saya ditempa mengenai kasih. Seorang pembicara dalam sebuah ibadah pernah mengatakan,

“Bila seorang memberikan sepatu ‘terjelek’ dari semua koleksi sepatu bagusnya kepada orang lain, itu bukan memberi, melainkan membuang. Memberi adalah ketika kau menyerahkan sepatu terbaikmu untuk dipakai orang lain. Kau sungguh sedang memberi ketika kau sendiri merasa sakit ketika memberikannya, namun kau tetap melakukannya demi orang lain. Bukankah itu cara memberi yang Allah teladankan dengan mengorbankan diri-Nya dalam rupa Kristus di kayu salib? Bukankah itulah sejatinya k-a-s-i-h itu?”

Saya dilatih untuk memberikan bagian terbaik -- untuk menyokong keluarga – sebuah nominal angka yang lebih daripada yang sebenarnya saya ingin berikan. Saya bergulat dengan egoisme sebagai seorang perempuan dewasa yang ingin mempergunakan uang itu untuk keinginan pribadinya. Akhirnya, saya menyerahkannya dengan ‘mengurangi’ diri saya sekalipun ‘sakit’ dan sampai menangis. Saya belajar lebih lagi tentang penyangkalan diri dengan mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan saya sendiri. Dan tentu itu tidak mudah, sebuah proses yang belum pernah berakhir.

Saya baru memahami teladan Maria Magdalena yang menyerahkan buli-buli minyak narwastu yang sangat mahal itu “hanya untuk” mengurapi kaki Yesus. Semakin mengerti persembahan dan pemberian bagi orang lain sebagai sesuatu yang digerakkan dan diinginkan Roh Kudus, bukan semata hanya kewajiban sosial atau keinginan hati pribadi yang ingin dipuaskan. Lebih dalam lagi, persembahan dan pemberian bagi orang lain bukan hanya sebagai tempat untuk mengalokasikan dana lebih, melainkan  sebuah tindakan yang didasari kasih dengan penghayatan di atas.

Tentunya semua penghayatan ini tidak akan saya bisa pahami bila Dia tidak mengajarkannya dengan cara seperti ini.

Tentang kecukupan

“Berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya” bukan hanya doa ritual yang sambil lalu saja diucapkan, melainkan doa yang mestinya dipanjatkan dengan sikap hati seperti orang yang sungguh miskin di hadapan Allah dan hanya mengharapkan-Nya sebagai Satu-satunya Sumber Penghidupan.

Tentang perempuan Amsal 31

Perempuan yang dikisahkan ini menginspirasi saya untuk sungguh-sungguh mengatur keuangan dengan baik dan menambah aliran pemasukan dari sumber lain. Perjuangan memang hehehe. Kalau membandingkan diri dengan perempuan dalam perikop itu, pasti masih jauh sekali. Tetapi bukankah adanya perempuan itu di dalam kitab bukan ditujukan untuk mengintimidasi para perempuan yang sedang berjuang ke arah sana, melainkan untuk memotivasi dan menginspirasi mereka? :D Bersyukur keadaan ini boleh ada, seakan-akan dikondisikan supaya saya mulai mengubah cara hidup saya yang terlalu santai, flow like a river, que sera sera dan kurang perencanaan. Manusia diberi hikmat untuk berencana juga kan? Bukan hanya duduk pasif menantikan berkat Tuhan datang, namun mengusahakan dan mendoakan usaha itu.

Jangan gagal fokus

Terus terang saja, segala perkara yang sempat hadir sejak akhir tahun lalu itu cukup menghilangkan fokus dalam mengerjakan panggilan di sini. Dari dialog dan discerning yang dilakukan sepanjang tahun dengan Sang Pemanggil (dan akan terus berlangsung hingga esok, lusa dan seterusnya…), ada banyak insight mengenai arah panggilan ini. Ada beberapa hal yang saya catat, namun belum bisa dibagikan dulu hihihi.

Intinya, ketika panggilan dikerjakan, tidak tiba-tiba semua halangan dan rintangan lenyap. Malah bisa jadi makin kencang angin bertiup untuk menguji panggilan itu. Namun jangan kuatir berlebihan hingga kehilangan fokus (seperti yang saya pernah alami). Tetap tenang dan kerjakan panggilan itu. Allah yang memanggil, Allah yang memelihara. Providensia Allah itu, saya menyaksikan dan mengalaminya.


Selamat menyelam lebih dalam.


(jangan lupa, lakukanlah yang terbaik dan beristirahatlah di bawah tangan Allah yang perkasa, hai jiwamu.)




Sunday, December 4, 2016

Sebuah Nama

Waktu kecil, saya sempat protes sama orang tua saya.

“Kenapa sih nama aku kok aneh?”

Protes itu muncul lantaran banyak orang kesulitan untuk menghafal nama saya. Bahkan ketika masuk SD pun saya masih kesulitan melafalkan nama saya sendiri. Kalau ditanya, pelan-pelan saya jawab dengan hati-hati, “Yohana Supialfi Benu.” Rata-rata orang akan bertanya ulang sedikitnya dua kali, “Apa? Supilfi? Supiavi? Sulfiafi?”

Bahkan berlanjut sampai SMP, waktu ikut sebuah lomba, nama saya berubah jadi Yohanna Sofialevi (ga pake Benu). FYI, bokap marah pas tahu nama anaknya jadi begitu (LOL).

Ibu saya pernah cerita kenapa akhirnya nama itu diberikan kepada saya. Yohana itu asalnya dari ibu dari bapak saya sedangkan Supi itu diambil dari Supiah, nama nenek saya dari Ibu. Orang tua saya berharap saya tumbuh menjadi seperti dua orang perempuan yang bagi mereka merupakan teladan itu. Kedua almarhumah nenek saya merupakan orang yang terkenal akan kebaikan dan kemurahan hatinya. Harapannya, saya juga jadi begitu ketika saya semakin bertumbuh menjadi dewasa.

Lalu Alfi Benu bagaimana? Kalau Benu jelas itu nama keluarga dari Bapak.

Hmm, yang kocak si Alfi ini. Jadi dulu, orang tua saya ga USG saya lagi pas usia kandungan Ibu sudah cukup besar. Kebanyakan nebak ini bakalan laki-laki anaknya. Maka Bapak nyiapin nama Alfa bla bla bla. Kenapa Alfa? Karena ini anak pertama, bro (akhirnyaaaa, setelah masa nunggu 3 tahun)! Belum sempet nyiapin nama kalau ternyata yang lahir perempuan. wkwk

Jengjengjeng…yang lahir bayi perempuan kaaaaan. Nah looooh.

Dokumentasi pribadi: 22 tahun yang lalu (rambutnya masih lurus hohoho)


Akhirnya Ibu dapat ide, criiiing…..”Yaudah alfanya jadi alfi aja.” Maka jadilah supialfi.

:”D

Waktu SMA, entah kenapa saya tertarik untuk cari tahu arti nama Yohana. Ternyata, artinya adalah Tuhan Maha Pemurah. Saya juga lihat di Alkitab, tokoh perempuan yang namanya Yohana adalah seorang perempuan kaya yang menopang pelayanan Yesus dengan harta yang dia miliki. Sedangkan Supiah ditarik dari bahasa Arab yang kira-kira artinya bijaksana. Yaa, kalau disimpulkan kira-kira arti namanya jadi tumpang tindih ya hehe.

Jadi inti tulisan ini itu apa?

Secara pribadi, makna dari nama saya menjadi suatu doa dan motivasi tersendiri dalam bermetamorfosis menjadi seorang perempuan dewasa. Nama ini adalah identitas yang saya gunakan untuk kembali berefleksi tentang sejauh mana perjalanan saya menuju harapan yang terkandung dalam nama saya ini. Kalau dulu saya tidak suka dengan nama saya sendiri yang saya anggap terlalu aneh, berkebalikan dengan sekarang. Saya suka sekali dengan nama saya. Saya lebih suka lagi bila ada orang yang hafal bahkan menyebutkan nama saya dengan benar. Memang betul seseorang yang pernah bilang “Kata yang paling indah didengar telinga manusia adalah namanya sendiri.”

Lalu, apa arti dari namamu? Accept the challenge I give to you? :)



Friday, August 19, 2016

H.O.M.E

 “Home is where your heart is,” I think the sentence is true. I will elaborate a little, “Home is where you gain your strength back.” For me, that means when you’re far away from home, you’ll not be strong enough to continue your life.



My home is Jakarta. My home is a small house number 23 in Cibubur border, consists of a (super cool) father, a (talkative yet super) mother, a (careless yet loving) lil’ brother and a (noisy yet sweet) lil’ sister. Twenty three years I had been living there. Every corner of that square house has recorded the echoes of my silly laughter, the sound of my tear drops, the words of song I’ve declared even the silence I orchestrated. It is home where you find the people who know who you really are, deliver their sincere critics, give full support, hold your hands to pray together and love you no matter how awful you are.

Last year, I have decided to go to North Halmahera. I want to dedicate my life for the people there at least for two years. It is for the first time I quit from the house to a very distant place with the longest period of time so far. My mother cried a lot when the day of my departure came nearer.


She asked, “Can you ask your HR to not be deployed there? North Maluku is too far.” She said, “Mba (my nickname at house), two years...isn’t it too long?”

My father said, “It’s okay. Go, I support you. Help the people there.”

I strengthened my heart, “Two years isn’t gonna be too long as my mother said. North Maluku isn’t that far.  I’ll ‘merantau’ (living in a place where it’s not your hometown) well and happily. I’ll enjoy my days, I won’t cry.“

My mother hugged and kissed me like hundred times at the airport on my departure night. I didn’t cry at all. I showed my family an excitement to welcome my new journey in an unknown place. I never felt homesick three months after I landed on Halmahera Island. I tried my best to divert my focus on my job.


Don’t hope (?)

I took another decision to not be home when Christmas 2015 came since I knew that on March 2016 there would be an opportunity for me to go to Java for a training. Flying to Jakarta by taking money from my wallet is too costly whereas I’ve been in a super tight period of spending money after my father entering his retirement. So, I planned to take the chance of making one day visit to see my family in Jakarta after the training done.

But the training has never been coming true until I’m writing down this post right now. HIKS.

Disappointed? Honestly, yes. I remember how I passed my Christmas and New Year night and day in drastic loneliness. I forced my heart to ‘postpone’ its longing until March, “Be patient, my soul. March is coming soon.” Unfortunately, I put my hope in a wrong place.

Yeah, I shouldn’t cling my hope to man. I shouldn’t rely on man’s disappointing promises. 

That’s a very awaking rebuke from God.

Painful

Working as development/social/multitasking worker in this organization isn't easy as clapping hands, my increased weight and acnes on my skinface may prove how complicated working with community. You're 'obliged' to have a great stress management skill and a go-to-person at least to do detoxification.

Working with the mentioned condition plus a longing heart for your home -- that's painful. 

You know exactly that a phone call even video call can’t replace a real hug. I often feel like needing a time to recharge. I went to the beach, I swam, I climbed up a tough tower to catch the sunrise with awesome scenery, I took my me-time eating, sleeping, pondering, I visited villages, I taught children – but those can’t fulfill the longing inside.

I’m thinking hard, what’s missing?

I’m missing companion. My home is my companion. Before deployment, every day I could absorb energy as much as I want from them (even if it’s only through small talks or by looking at their backs). When I struggled with hardship, there was my little sister – my shortcut to laughter, mother’s arm that I always lean on, or my best friend’s room to pray together. Being surrounded by them, I can ‘hide’ for a while from the exhausting world.

Dwelling in Halmahera, I cannot reach them easily every day. I mean, it may seem easy for me to call them every second, but the context is now different. On the telecommunication devices, I cannot express the true feeling I want to convey, “Mother, I really miss you and I wish I could pack my clothes and fly to Jakarta right now!”

Saying that would just exacerbate the condition, my mother would be suddenly worrying me, “What happened to my daughter, is there something unpleasant you experienced there? Oh come on, hurry up, come back to Jakarta (and maybe don’t go back there)”

Being separated from them, I remind myself that it’s one of consequences I have to bear with when I consciously decided to take this path. I should be responsible for my decision. I should grow up by firstly taking off my comfort area. I’m challenged to not being childish. And I keep wandering what actually He wants to talk to me during this part of ‘perantauan’ (a noun of merantau) life?

And?

This place is like an ‘exile’ for me, an exile to discipline me as a disciple. I get two points anyway during my ongoing contemplation. First, it’s about God. I see God wants to reemphasize that He is The Real Home for me. Yes, I need companion, but He should be the First Companion I seek in the very day. He is The Source of hope, joy and strength to continue the fight in the battlefield. Moreover, He is The Reason behind why I came here. He is The Inner-Contentment, none else can satisfy my thirsty soul.

Second, I admit my need for lifetime partner. Living in a new place with heavy duty is really burdensome. My family isn’t always there, my friends as well. I’m thinking it may ease my burden when I have a partner to share each other about happiness and sorrow, vision and dream, worry and hope; a partner to grow together towards Christ-likeness, to grow together in friendship and love. Yet, I haven’t found my  ‘home-man’ and haven’t been found as ‘home-woman’ by that man, still an intriguing mystery as always.

Anyway, the point to conclude is whether I’m humble enough to train myself to be content in God’s presence and providence like this song of David says, “Whom have I in heaven but Thee? And there is none upon earth that I desire beside Thee. My flesh and my heart faileth: but God is the strength of my heart, and my portion forever.”
Psalms 73: 25-26 KJV

Apology for this melancholy-explicit writing, I finally write down this after almost one year contemplating. I’m taking this as my catharsis. By writing, I can get another perspective to see things and I’m relieved.

See you, I’m going back to my running arena. 


Thursday, May 26, 2016

Halo Kelapa, saya Yohana

Di atas bentor, sepanjang perjalanan pulang setelah ngobrol panjang lebar dengan seorang pengusaha komoditas pangan di Tobelo, saya tarik napas panjang “Hmmh, ini pekerjaan besar.” Beberapa waktu ke belakang memang saya super pusing. Sepertinya kepusingan itu perlu saya tumpahkan, ya paling tidak ke blog ini. Sekalipun yang baca jadi roaming, didengarkan sajalah ya jika tetap ingin membaca hehe.

Fuuhhh...

Halo Kopra!

Jadi, perbincangan dimulai tentang produksi kopra putih di Halmahera Utara. Menurut keterangan sang pengusaha, nyaris tidak ada yang produksi kopra putih di kabupaten ini. Benar, rata-rata semua buat kopra kopi. Apa itu kopra putih dan kopra kopi? Saya pun baru belajar ketika ‘dinobatkan’ jadi yang koordinir proyek pengembangan ekonomi masyarakat di sini. Oleh karena sekitar 90% lebih masyarakat Halmahera Utara berprofesi sebagai petani kelapa plus sumber daya kelapanya sampai 70.000-an hektar (berdasarkan data Halmahera Utara dalam Angka tahun 2011), mau tidak mau ya saya harus belajar tentang kelapa.

Jadi begini, mayoritas petani kelapa di sini mengolah kelapanya jadi kopra. Kopra itu adalah daging kelapa yang dikeringkan untuk diambil minyaknya. Pasar akhir dari kopra pada umumnya adalah Eropa. Kopra berdasarkan kualitasnya dibagi jadi 3 jenis, kopra putih, kopra teh dan kopra kopi. Kopra putih itu yang paling bagus kualitasnya karena warnanya putih hingga kekuningan, kandungan air dan jamurnya sedikit (di bawah 10%), baunya khas kelapa. Kopra kopi itu kualitas yang paling jelek, warnanya hitam pekat, kandungan air dan jamurnya banyak dan berbau asap. Nah, kalau kopra teh itu kualitas dan warnanya ada di tengah-tengah antara kopra putih dan kopra kopi.

Kualitas kopra sendiri tergantung pada cara pengolahannya. Untuk dapat kopra putih itu prosesnya lebih lama, bisa sampai 5-7 hari karena proses pengeringannya tidak pakai api, hanya dijemur atau canggih dikit pakai oven.

Biasanya, karena ingin cepat menghasilkan uang, petani kelapa cenderung menggunakan teknik pengasapan untuk mengeringkan kopra. Jadi, kelapa dibelah, dagingnya dicungkil lalu diasapkan dengan suhu yang tinggi. Sebenarnya metode yang benar ketika melakukan pengasapan adalah suhunya harus sedang supaya 1) mencegah kulit daging kelapa jadi keras sedangkan dagingnya belum kering benar, 2) tidak didominasi bau asap. Kalau kulitnya keras sedangkan dagingnya masih basah, itu memicu kandungan jamur meningkat sehingga kualitas minyak jelek. Normalnya pun bila menggunakan teknik pengasapan dengan api sedang, kopra baru bisa jadi setelah 2-3 hari. Tapi, karena ingin cepat biasanya kopra jadi hanya dalam 1-2 hari. Caranya? Ya naikkan suhunya.

Faktanya, semua petani kelapa di sini memilih untuk memproduksi kopra kopi turun temurun. Sejauh ini saya belum menemukan petani yang buat kopra putih dengan tahapan yang benar di sini. 

Herannya, sekalipun kopra dari Halmahera Utara adalah kopra kopi tetapi masih banyak pembeli yang mau terima. Dengar-dengar dari pengusaha tadi sih karena entah kenapa kopra dari sini sekalipun begitu penampakannya tapi minyaknya banyak. Biasanya ketika distributor di sini ambil dari petani dan kirim ke Manado atau Jawa, di sana kopranya entah dengan cara apa akan dicampur untuk minimal menghasilkan kopra teh.

Hi, meet our dream:  Coconut Learning Center!

Nah, proyek pengembangan ekonomi yang saya dan tim sedang gumulkan adalah untuk memperbaiki kualitas kopra di Halmahera Utara. Ini adalah salah satu agenda cabang dari blueprint besar pembangunan Coconut Learning Center atau sentra pembelajaran kelapa terpadu di Halmahera Utara. Blueprint ini sebenarnya merupakan hasil dari diskusi demi diskusi dan forum demi forum yang telah dilakukan oleh pendahulu-pendahulu saya di posisi ini. Dengan merangkul berbagai mitra terkait, baik dari unsur instansi daerah, kelompok tani hingga pengusaha, Wahana Visi Indonesia memaparkan hasil penelitian baseline bersama Universitas Padjajaran bahwa memang potensi kabupaten ini diprimadonai oleh kelapa. Terkait dengan hal ini, berbagai pihak setuju bahwa memang perlu diadakan maksimalisasi sumber daya kelapa beserta sumber daya manusia yang mengelolanya.

Dalam konsep yang digagaskan, Coconut Learning Center ini akan menjadi suatu tempat kepemilikan bersama, suatu forum yang mempertemukan para petani dengan stakeholders lainnya. Untuk apa? Untuk saling bertukar informasi, contohnya mengenai harga kopra, cara pengolahan kopra yang baik, pemasaran bersama. Untuk apa lagi? Untuk saling belajar mengenai produk-produk turunan kelapa lainnya, tidak hanya terus menerus bertumpu pada kopra yang panennya hanya 4 bulan sekali.

Kelapa, The Tree of Life ini banyak sekali manfaatnya, seperti yang semua orang sudah tahu. Mulai dari batangnya, daun, sabut, tempurung, daging sampai ke airnya --- semua bisa digunakan. Jika semuanya dimanfaatkan, betapa kayanya orang-orang Halmahera Utara!

Sayangnya yang percaya akan potensi itu, hanya segelintir orang – yang mungkin bisa dihitung dengan jari.

Coconut Learning Center ini diharapkan akan jadi forum untuk mengintegrasikan hal yang selama ini terpisah. Di sana akan ada yang bisa mengajarkan cara membuat minyak goreng kelapa, sabun kecantikan dari kelapa, VCO, pupuk kelapa, tepung kelapa, arang, kopra putih, bahkan sampai ke kerajinan dari kelapa. Fasilitas yang dimiliki sentra ini nantinya akan mengkapasitasi kelompok-kelompok tani di seluruh desa di Halmahera Utara untuk piawai dalam mengelola produk kelapa sehingga kelapa menjadi produk unggulan kabupaten.

Minyak Goreng Kelapa dan VCO merk Nawango, dua contoh produk olahan kelapa
yang akan diajarkan di Coconut Learning Center

Coconut Learning Center nantinya juga akan menjadi tempat yang menyumbangkan sekian tempat untuk para pekerja di Halmahera Utara. Terlebih lagi, Coconut Learning Center akan memberdayakan perempuan Halmahera Utara untuk menopang suami dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Bagaimana caranya? Bapak kerja kopra, ibu produksi minyak goreng kelapa, misalnya. Bila kopra dihasilkan 4 bulan sekali, minyak goreng kelapa bisa dihasilkan tiap minggu. Oleh sebab itu, keluarga petani tidak perlu lagi berhutang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika belum panen kopra. Efek jangka panjangnya, tidak perlu lagi anak berhenti sekolah atau tidak berobat ketika sakit hanya karena alasan tarada doi (tidak ada uang).

Coconut Learning Center juga nantinya akan menjadi brand kabupaten di mana oleh-oleh khas dari Halmahera Utara akan dicari di sana, semua khas kelapa.

Inhaaaaaale, exhaaaaaale!

Kembali lagi ke perbaikan kualitas kopra, I feel like almost all people here lose faith in it, termasuk pengusaha yang ngobrol dengan saya tadi. Sejujurnya, efek perbincangan tadi sore membuat saya masuk ke proses stagnasi ide. Oh come on, who are you? You want to change theeeeseeee people’s production behavior that has been planted and internalized for years? It seems impossible.

Ya,ya, ya I know right. Perhaps, I am crazy. No, we’re crazy (we=WVI). It’s such too huge thing to handle. Well, it’s going to go back to our fourth value: about partnership. This is the problem, how could you work hand in hand with those who can’t catch the same vision? Or maybe they can catch the idea but are not committed to work together for the sake of that vision.

Sepertinya ini mimpi besar yang banyak orang tertawakan dan ragukan. Entah kenapa, beberapa stakeholders yang awalnya berkoar-koar, mengangguk keras setuju seperti menghilang. Masyarakat yang awalnya penuh semangat ketika pelatihan berangsur-angsur padam semangatnya. Banyak sekali tantangan dan hambatan untuk bisa mempraktekkan hal-hal yang sudah dilatih terkait pengolahan produk turunan kelapa.

Sedihnya, di balik alasan-alasan tersurat yang dinyatakan sebenarnya tersirat kesangsian besar. Kesangsian itu bisa disetarakan dengan kalimat, “Halah, ga akan jalan itu. Pasti gagal itu seperti yang sudah-sudah.”

Saya tidak pernah tahu berapa banyak orang yang sudah memperjuangkan perihal ini untuk kesejahteraan masyarakat Halmahera Utara sebelum WVI datang. Saya juga tidak pernah tahu, apakah upaya bertahun-tahun yang perjuangkan tim Wahana Visi Indonesia di tempat ini akan berhasil. Saya-tidak-pernah-tahu.

Jujur saja, berkali-kali rasanya saya ingin menyerah. Ketika kelompok tani sedang semangat produksi Crude Coconut Oil (CCO)*, musim kemarau panjang datang dan kebakaran ladang di beberapa titik terjadi sehingga buah kelapa sedikit. Banyak lagi kendala-kendala yang menghambat. Sebagian besar dilatarbelakangi oleh alasan-alasan yang terkesan dibuat-buat kelompok tani. Sudah dimotivasi sekian ribu kali, kelihatannya sepertinya sia-sia. Kendala lainnya lagi, ketika kemitraan sudah dibangun sedemikian rupa, tiba-tiba angin politik melengserkan kepala-kepala dinas yang vital dalam proyek ini. Apa boleh buat, kemitraan harus dibangun lagi dari awal.

Bila saya daftarkan lagi mungkin jatuhnya saya jadi akan mengeluh hehe (sepertinya inipun sudah mengeluh).

Namun di tengah semuanya, saya bersyukur Kepala Dinas Pertanian di kabupaten ini punya visi yang sama, yakni mengintegrasikan stakeholders yang ada di kabupaten melalui satu forum yang sinergis. Beliau seringkali mengingatkan untuk ‘pelan-pelan saja’ di saat saya rasanya ingin semua proses berlangsung cepat. Saya rasa Beliau pun punya kesedihan dan kegalauan yang sama dengan saya.

Bersyukur juga, ada satu kelompok tani  yang begitu setia tetap mempraktekkan pengetahuan yang diserap pasca pelatihan. Setiap bulan, kelompok ini pasti membawa CCO untuk dijual ke pra-sentra. Sekalipun minimal hanya 5 liter yang dihasilkan, ketua kelompok mengaku bahwa hasil penjualan CCO sangat membantu menopang kebutuhan biaya anaknya yang sedang kuliah di Ternate. Ingin sekali saya perkenalkan, Kelompok Porimoi-Pogiriho dari Desa Lalonga namanya. Saya terharu sekali.

Itulah rekan seperjuangan yang membuat saya malu sekaligus termotivasi, “Ayo, kuatkan tumitmu untuk berlari lagi.”

Sudah 8 bulan saya di sini. Apakah dalam 16 bulan ke depan sentra itu akan berdiri dan beroperasi atau bahkan dalam dua tahun ini sentra itu tidak pernah berdiri, saya tidak tahu. Yang saya yakini, saya dipanggil bukan untuk berhasil, tetapi untuk setia. Sekalipun buahnya tidak saya petik dalam dua tahun ini, pasti benih yang ditabur bertumbuh. Sekalipun bukan dalam bentuk sentra pembelajaran terpadu, entah apa nanti, pasti akan ada buahnya. Jadi,note to self-nya: 
  • Ingat visimu: kesejahteraan anak dan keluarga di Halmahera Utara
  • Berjalanlah dua mil
  • Doakanlah lebih banyak daripada kau membicarakannya
  • God’s working, God’s in control
  • Dance, dance over the wavy ocean!


Bagaimanapun, pengembangan transformatif  (transformational development) yang dikerjakan adalah proses sekaligus tujuan. Komunitas yang tertransformasi itu hanya Tuhanlah yang mampu melakukannya. Lagi-lagi segala kesulitan dan hambatan ini mengingatkan bahwa saya dan WVI hanyalah alat yang tidak berguna bila bukan Tuhan yang bekerja melalui alat-alat tak berdaya ini. Panjangnya tulisan ini juga mengingatkan bahwa kekuatan dan hikmat datang ketika kau persilakan Dia yang memimpin, bukan dirimu sendiri, Yohana. Siapakah domba yang awam ini sehingga Kau percayakan untuk mengerjakan perkara sebesar ini, Tuhan? To You be all the glory!


Keterangan:

Crude Coconut Oil adalah salah satu produk turunan kelapa yang menjadi bahan dasar untuk pembuatan Virgin Coconut Oil dan sabun kecantikan. Prosesnya melalui pemarutan daging kelapa, pemerasan santan hingga pengendapan selama 8 jam.